Ramadhan Gelap Menuju Indonesia Emas dan Semangat Punk Oi..Oi

Markaberita.id | Jakarta – Jelang Ramadhan 2025, Indonesia menghadapi berbagai tantangan yang menggugah kesadaran sosial. Pedasnya Harga cabai yang melonjak tinggi semakin membebani masyarakat, terutama rakyat kecil, di tengah janji politik yang belum terealisasi. Pilkada serentak yang baru berlalu justru memperburuk rasa kecewa, karena harapan terhadap perubahan kini terasa jauh dari kenyataan.

Selain itu, tingginya harga bahan pokok seperti cabai turut menambah beban ekonomi banyak keluarga, memperburuk kesulitan yang sudah ada. Ini mengingatkan kita akan pentingnya peran negara dalam menyediakan lapangan pekerjaan layak bagi rakyat, bukan hanya memberikan bantuan sementara yang tidak menyelesaikan akar masalah.

Pilkada serentak juga menyisakan kekecewaan. Janji-janji manis dari para calon pemimpin daerah tampaknya hanya kosmetik politik. Apa mungkin karena baru, dilantik, apa memang perubahan yang dijanjikan itu hanya untuk kelompok yang berjasa jadi belum berimplikasi kepada masyakarat. Jelas mereka tersadar dan membuat rakyat merasa tak lebih dari objek politik tanpa pemberdayaan nyata.

Baca Juga  Forum Pemuda Peduli Jakarta (FPPJ), Keputusan Pemilihan PJ Gubernur DKI Jakarta Merupakan Kewenangan Presiden

Di tengah ketidakpastian ini, muncul fenomena baru: band punk Sukatani dengan lagu “Bayar Bayar Bayar”, yang mencerminkan kegelisahan masyarakat terhadap ketidakadilan sosial meskipun polisi yang jadi sasaran. Punk, sebagai subkultur perlawanan terhadap penindasan, kembali menjadi suara bagi generasi muda yang menuntut keadilan, protes dari berbagai sekotor. Sasarannya, tidak hanya polisi. Tapi kezoliman, karena semangat punk adalah menjadi Representasi Abdal mustadh’afin dalam terminologi Islam. Atau menjadi bapak bagi orang-orang yang tertindas.

Kelompok politik Islam yang terjebak dalam dilema kekuasaan juga diingatkan oleh suara-suara perlawanan ini. Seiring kebangkitan opini publik, aktivis, seniman, mahasiswa, dan pers memainkan peran penting sebagai penyeimbang dalam demokrasi. Punk, yang bukan simbol Marhaenisme atau komunis, tetapi perlawanan terhadap ketidakadilan sosial, menggugah kita untuk terus memperjuangkan keadilan bagi mereka yang terpinggirkan dalam konteks menuju Indonesia Raya yang adil dan makmur.

Baca Juga  PTP Kanwil Kemenkumham Kalsel Berlaga di "Dharma Karyadhika Open” HDKD Ke-78

Dengan semangat ini, mari sambut Ramadhan 2025 dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan. Sebagai umat beriman, kita diharapkan menjalani ibadah puasa dengan ikhlas, memperbaiki diri, dan membawa perubahan positif bagi bangsa. Semoga Ramadhan ini menjadi momen untuk memperjuangkan kebaikan dan keadilan bagi semua lapisan masyarakat. Sebagaimana Allah berfirman “La yukallifullahu nafsan illa wus’aha”La yukallifullahu nafsan illa wus’aha” adalah penggalan ayat 286 dari surah Al-Baqarah dalam Al-Qur’an yang  artinya,

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”.(Red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *